Daerah

Banjir Terus Berulang, BWS Beberkan Biang Keroknya

×

Banjir Terus Berulang, BWS Beberkan Biang Keroknya

Sebarkan artikel ini
Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan (Kasatker OP) BWS Sulawesi II Gorontalo, Reynaldo Jeffry Polie. Foto: tilangonews.com

Tilangonews.com – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Gorontalo dalam beberapa waktu terakhir kembali memicu banjir di sejumlah daerah. Salah satu wilayah yang terdampak yakni Kecamatan Limboto Barat, menyusul jebolnya tanggul sungai di Desa Tunggulo.

Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II Gorontalo mengungkap, penyebab utama banjir yang kian sering terjadi bukan semata-mata karena kondisi tanggul, melainkan perubahan tata ruang di wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS).

Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan (Kasatker OP) BWS Sulawesi II Gorontalo, Reynaldo Jeffry Polie, menjelaskan bahwa DAS secara umum terbagi menjadi tiga zona, yakni zona inti di bagian hulu, zona penyangga, dan zona pengembangan di bagian hilir yang umumnya menjadi kawasan pemukiman dan persawahan.

“Selama ini dampak banjir paling terasa di zona pengembangan atau hilir. Namun, jarang yang melihat kondisi di bagian hulu. Padahal, saat ini kawasan perbukitan di hulu sudah banyak berubah fungsi menjadi area perkebunan jagung,” ungkap Reynaldo saat diwawancarai terkait penanganan tanggul jebol di Limboto Barat.

Ia menjelaskan, perubahan fungsi lahan tersebut menyebabkan berkurangnya daerah tangkapan air. Bahkan, sisa tanaman jagung pascapanen yang kerap dibakar semakin memperparah kondisi lingkungan.

“Dulu masih ada hutan dan pepohonan yang akarnya mampu menyerap air. Sekarang sudah tidak ada. Akibatnya, seluruh debit air hujan langsung mengalir ke sungai dan turun ke wilayah hilir,” jelasnya.

Menurut Reynaldo, tanggul-tanggul yang ada saat ini sebagian besar didesain berdasarkan perhitungan debit banjir 20 tahunan, bahkan ada yang 50 tahunan. Namun, perhitungan tersebut dibuat dengan asumsi kondisi hulu masih alami.

“Dengan kondisi sekarang yang sudah berubah, hujan satu sampai dua jam saja debit air langsung tinggi dan sungai meluap. Tanggul yang ada sudah tidak mampu lagi menahan beban air,” katanya.

Selain itu, sedimentasi sungai yang semakin tinggi akibat material dari hulu turut mempersempit penampang sungai, sehingga mempercepat terjadinya luapan air.

Terkait tanggul yang kerap jebol, Reynaldo menegaskan bahwa kerusakan terjadi di titik yang berbeda-beda. Terbaru, tanggul jebol terjadi di sisi kanan sungai dengan panjang sekitar 12 meter.

“Banyak yang menilai tanggul sering diperbaiki tapi tetap jebol. Sebenarnya, yang jebol itu titiknya berbeda-beda. Karena sifatnya masih tanggul lama, maka kami lakukan penanganan sesaat melalui operasi pemeliharaan,” ujarnya.

Saat ini, BWS Sulawesi II telah mengusulkan rehabilitasi tanggul secara menyeluruh. Namun, hingga kini belum ada kepastian terkait ketersediaan anggaran untuk pekerjaan tersebut.

Sebagai langkah darurat, BWS bersama tim OP dan masyarakat setempat telah melakukan penanganan sementara pada titik tanggul yang jebol, menggunakan material dan peralatan penanganan bencana dari Direktorat OP.

“Penanganan ini bersifat urgensi untuk meminimalisir dampak banjir, terutama terhadap pemukiman dan area persawahan karena saat ini sudah memasuki masa tanam,” pungkas Reynaldo

Dinosaur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *