Daerah

Ini Dia Resep Dodol Khas Reksonegoro yang Legitnya Bikin Ketagihan

×

Ini Dia Resep Dodol Khas Reksonegoro yang Legitnya Bikin Ketagihan

Sebarkan artikel ini

Tilangonews.com – Dodol atau jenang menjadi salah satu hidangan khas yang tak pernah absen di tengah masyarakat Jawa Tondano, khususnya saat perayaan Lebaran Ketupat.

Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun. Setiap tahunnya, tepat sepekan setelah Hari Raya Idulfitri, dodol selalu disajikan sebagai pelengkap ketupat dan nasi jaha, sekaligus menjadi simbol kebersamaan dalam momen silaturahmi.

Dinosaur

Dodol khas ini dibuat dari tiga bahan utama, yakni beras ketan, santan kelapa, dan gula aren. Namun, untuk menambah cita rasa, biasanya ditambahkan bahan pelengkap seperti kacang tanah yang telah disangrai.

Salah satu warga Reksonegoro, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Djafar Nurkemiden, membagikan resep sekaligus proses pembuatan dodol khas Jawa Tondano yang dikenal legit dan kaya rasa.

Djafar Nurkamiden.

“Awalnya beras ketan direndam sekitar 30 menit, kemudian ditiriskan dan dikeringkan untuk dijadikan tepung. Sementara itu, gula aren didihkan terlebih dahulu,” ujar Djafar saat diwawancarai.

Setelah itu, tepung beras ketan dicampurkan dengan santan kelapa, lalu dimasukkan ke dalam wadah berisi gula aren yang telah mendidih. Adonan tersebut kemudian diaduk secara terus-menerus hingga matang.

Dinosaur

Proses memasak dodol membutuhkan kesabaran ekstra. Untuk 10 kilogram bahan, waktu yang dibutuhkan bisa mencapai 8 hingga 10 jam.

“Harus diaduk terus supaya tidak gosong dan hasilnya bisa maksimal,” jelasnya.

Djafar juga mengungkapkan perbandingan bahan yang digunakan, yakni 1:2. Artinya, setiap 1 kilogram tepung beras ketan membutuhkan 2 kilogram gula aren serta santan dari 2 butir kelapa.

“Kalau 10 kilo beras ketan, berarti gula arennya 20 kilogram dan kelapanya sekitar 20 butir,” tambahnya.

Menjelang akhir proses memasak, sekitar satu hingga dua jam sebelum diangkat, ditambahkan kacang tanah sangrai untuk memperkaya rasa dan tekstur dodol.

Setelah matang, dodol tidak langsung dibungkus. Adonan harus didinginkan terlebih dahulu selama semalam agar teksturnya mengeras dan mudah dikemas.

“Kita dinginkan semalaman, besoknya baru dibungkus pakai daun woka,” katanya.

Dalam satu kali produksi, 10 kilogram beras ketan dapat menghasilkan sekitar 150 hingga 200 bungkus besar. Sementara jika dikemas dalam ukuran kecil seperti yang dijual di pinggir jalan, jumlahnya bisa mencapai 800 bungkus.

Dodol khas ini bukan sekadar makanan, tetapi telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa Tondano. Kehadirannya saat Lebaran Ketupat menjadi simbol keramahan tuan rumah dalam menyambut para tamu yang datang bersilaturahmi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *