Tilangonews.com – Sebanyak 98 siswa tingkat SD dan MI se-Kabupaten Gorontalo mengikuti lomba bertutur yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gorontalo di Gedung Kasmat Lahay, Selasa (19/5/2026).
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, dan turut dihadiri Wakil Bupati Tony Junus serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gorontalo, Rahmat Doni Lahati, mengatakan lomba bertutur digelar sebagai upaya membangun kemampuan kognitif anak sejak dini, sekaligus menumbuhkan keberanian tampil di depan umum.
Menurutnya, kegiatan itu juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan minat baca anak-anak melalui cerita-cerita yang mereka bawakan.
“Anak-anak dibiasakan dekat dengan buku. Ketika mereka gemar membaca, itu nantinya akan menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi perilaku positif dalam kehidupan mereka,” ujar Rahmat.
Ia menjelaskan, budaya membaca yang ditanamkan sejak dini diharapkan mampu membentuk generasi yang produktif dan memiliki daya saing di masa depan.
Rahmat menyebut, antusiasme peserta tahun ini cukup tinggi. Awalnya lomba hanya direncanakan berlangsung selama dua hari, namun karena jumlah peserta mencapai 98 orang, pelaksanaan kegiatan akhirnya diperpanjang menjadi tiga hari.
“Pesertanya membludak. Ini menunjukkan minat anak-anak untuk ikut lomba bertutur sangat besar,” katanya.
Peserta berasal dari berbagai sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Kabupaten Gorontalo. Pada pelaksanaan tahun sebelumnya, Kabupaten Gorontalo bahkan berhasil meraih juara pertama tingkat Provinsi Gorontalo dan mewakili daerah ke tingkat nasional.
Meski belum berhasil meraih prestasi di tingkat nasional, Rahmat optimistis kemampuan peserta dari Kabupaten Gorontalo akan terus berkembang.
Dalam lomba tersebut, peserta dibebaskan memilih tema cerita, namun panitia memberikan sejumlah ketentuan, di antaranya cerita tidak boleh mengandung unsur kekerasan maupun intoleransi.
Panitia lebih mendorong peserta untuk membawakan cerita yang mengangkat budaya dan kearifan lokal daerah sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya melalui literasi.














