Tilangonews.com – Kasus kebakaran di Kabupaten Gorontalo masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Hingga awal Juli 2026, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Gorontalo mencatat sebanyak 34 kejadian kebakaran, dengan 20 di antaranya merupakan kebakaran rumah yang sebagian besar dipicu oleh korsleting atau hubungan arus pendek listrik.
Kepala UPTD Damkar Kabupaten Gorontalo, Farid Taha, mengungkapkan bahwa Kecamatan Limboto menjadi wilayah dengan jumlah kejadian kebakaran terbanyak sepanjang tahun ini. Menurutnya, meningkatnya kasus kebakaran juga dipengaruhi kondisi cuaca yang memasuki musim kemarau.
“Hingga bulan Juli ini sudah ada sekitar 34 kejadian kebakaran. Yang paling banyak terjadi di Kecamatan Limboto. Memang saat musim kemarau seperti sekarang, potensi kebakaran semakin tinggi karena kondisi lingkungan yang kering dan mudah terbakar,” kata Farid, Kamis (9/7/2026).
Farid menjelaskan, kebakaran terjadi ketika terdapat tiga unsur yang saling bertemu, yakni bahan yang mudah terbakar, oksigen, dan sumber panas. Saat musim kemarau, suhu udara yang tinggi membuat api lebih cepat menyebar sehingga kebakaran menjadi lebih sulit dikendalikan.
Meski demikian, ia menegaskan sebagian besar peristiwa kebakaran sebenarnya masih dapat dicegah apabila masyarakat lebih berhati-hati dalam beraktivitas.
Selain faktor cuaca, Farid menyebut korsleting listrik menjadi penyebab paling dominan, terutama pada kebakaran rumah. Dari total 34 kejadian, sebanyak 20 kasus merupakan kebakaran bangunan tempat tinggal yang diduga dipicu oleh instalasi listrik yang sudah tidak layak.
“Yang paling banyak memang karena korsleting listrik. Banyak rumah maupun lapak usaha yang instalasi listriknya tidak lagi sesuai standar. Kabel disambung-sambung, beban listrik bertumpuk di satu titik, akhirnya memicu hubungan arus pendek dan menimbulkan kebakaran,” jelasnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar melakukan pemeriksaan instalasi listrik secara berkala. Menurutnya, instalasi listrik rumah yang telah digunakan selama 10 hingga 15 tahun sebaiknya diperbarui demi mengurangi risiko kebakaran.
“Kami mengimbau masyarakat segera memeriksa instalasi listrik bersama pihak yang berwenang. Jangan menunggu sampai terjadi kebakaran yang justru menimbulkan kerugian lebih besar,” ujarnya.
Di sisi lain, Damkar Kabupaten Gorontalo memastikan kesiapsiagaan personelnya tetap terjaga selama 24 jam. Sebanyak tiga regu yang bertugas secara bergantian setiap hari untuk merespons laporan masyarakat.
Farid mengatakan, hingga saat ini hampir seluruh laporan kebakaran berhasil ditangani. Dari 34 kejadian yang tercatat, hanya satu insiden yang tidak sempat ditangani karena informasi terlambat diterima petugas.
“Alhamdulillah, dari 34 kejadian, hanya satu yang tidak tertangani karena informasi tidak sampai kepada kami. Selebihnya seluruhnya berhasil kami respons,” tandasnya.













