Tilangonews.com – Pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII yang dijadwalkan berlangsung di Provinsi Gorontalo pada Juni 2026 mendapat perhatian serius dari Anggota DPD RI, Rahmijati Jahja.
Menurut Rahmijati, ajang nasional tersebut tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata. Ia menegaskan, PENAS harus mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan.
Ia menilai, PENAS sejatinya menjadi ruang strategis untuk mendorong transformasi sektor pertanian dan perikanan, terutama melalui pemanfaatan teknologi, mekanisasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Jangan hanya jadi agenda seremonial. Kegiatan ini harus benar-benar memberi manfaat signifikan, agar petani dan nelayan semakin maju, sekaligus mendukung cita-cita Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045,” ujar Rahmijati, Rabu (1/4/2026).
Senator asal Gorontalo itu juga menekankan pentingnya menjadikan PENAS sebagai etalase produk lokal. Ia berharap kegiatan ini mampu membuka akses pasar yang lebih luas bagi hasil pertanian dan perikanan daerah.
Tak hanya itu, Rahmijati mendorong pemerintah untuk memberikan dukungan konkret, baik dari sisi pembiayaan, sarana produksi, hingga kebijakan yang berpihak pada petani dan nelayan.
Di sisi lain, ia mengungkap sejumlah persoalan mendasar yang hingga kini masih membayangi sektor pertanian nasional. Mulai dari minimnya regenerasi petani, rendahnya kualitas SDM, hingga belum optimalnya peran penyuluh pertanian.
Selain itu, ketimpangan penguasaan lahan dan maraknya alih fungsi lahan pertanian juga dinilai menjadi ancaman serius terhadap ketahanan pangan. Belum lagi persoalan akses permodalan yang terbatas, rantai pasok yang belum efisien, hingga dampak perubahan iklim yang belum tertangani secara sistematis.
“Termasuk juga asuransi pertanian yang belum berjalan efektif, ini harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Dengan mengusung tema transformasi teknologi untuk mendukung swasembada pangan, Rahmijati berharap PENAS 2026 di Gorontalo dapat menjadi momentum untuk menjawab berbagai tantangan tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya peran penyuluh sebagai jembatan antara kebijakan dan praktik di lapangan. Menurutnya, komunikasi yang intens antara penyuluh dan petani menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas.
“Harapannya, bukan hanya petani dan nelayan yang sejahtera, tetapi seluruh pihak yang terlibat, terutama penyuluh, juga mendapat perhatian,” pungkasnya.
