DaerahNasional

Drone Pertanian Dipamerkan di PENAS XVII, Curi Perhatian Pengunjung

Tilangonews.com – Teknologi pertanian berbasis pesawat tanpa awak menjadi salah satu daya tarik utama dalam gelaran Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo. Ratusan pengunjung tampak antusias melihat dari dekat kemampuan drone pertanian yang dipamerkan di area pameran kegiatan nasional tersebut.

Perusahaan penyedia teknologi pertanian, PT DSR, menghadirkan dua unit andalannya, yakni Drone Pertanian Garuda T25P dan Drone Logistik Garuda T100. Kehadiran kedua perangkat ini menjadi gambaran nyata transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berbasis digital.

Perwakilan teknis PT DSR, Cita Hartito, menjelaskan bahwa Garuda T25P dirancang untuk membantu berbagai pekerjaan pertanian secara presisi. Drone tersebut mampu melakukan penyemprotan pupuk cair maupun pestisida, menebar benih dan pupuk padat, hingga memantau kondisi tanaman melalui teknologi sensor.

“Drone ini dibuat untuk meningkatkan efisiensi kerja petani. Aktivitas yang biasanya membutuhkan banyak tenaga dan waktu kini bisa dilakukan lebih cepat dan akurat,” ujar Cita saat ditemui di lokasi pameran, Senin (22/6/2026).

Selain drone pertanian, PT DSR juga memperkenalkan Garuda T100 yang memiliki kemampuan mengangkut muatan hingga 100 kilogram. Drone berukuran besar itu disiapkan untuk mendukung distribusi barang dan logistik, terutama di wilayah yang sulit dijangkau kendaraan konvensional.

Untuk memiliki satu unit Garuda T25P, petani atau kelompok tani perlu menyiapkan investasi sekitar Rp250 juta. Namun, perusahaan juga menawarkan skema pembayaran bertahap guna memudahkan calon pengguna mengakses teknologi tersebut.

Menurut Cita, penggunaan drone pertanian kini semakin berkembang di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Lampung, sejumlah wilayah di Pulau Jawa, hingga Sulawesi. Bahkan, bagi petani yang belum mampu membeli unit sendiri, telah tersedia layanan penyemprotan menggunakan drone dengan biaya sekitar Rp300 ribu per hektare.

Ia berharap kehadiran teknologi pertanian modern di PENAS XVII dapat menarik minat generasi muda untuk kembali melirik sektor pertanian sebagai profesi yang menjanjikan.

“Pertanian sekarang sudah berbeda. Dengan bantuan teknologi, pekerjaan petani menjadi lebih ringan, cepat, dan efisien. Kami ingin anak-anak muda melihat bahwa bertani juga bisa dilakukan dengan cara yang modern dan memiliki prospek yang baik,” tutupnya.

Exit mobile version