Tilangonews.com — Dugaan aksi tak senonoh yang dilakukan sepasang kekasih di Rumah Adat Bantayo Po Boide mendapat perhatian serius dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Gorontalo.
Kepala Dinas Dikbud Kabupaten Gorontalo, Abdul Waris, mengatakan pihaknya telah mengambil sejumlah langkah untuk menindaklanjuti informasi yang beredar di media sosial tersebut.
Langkah itu dilakukan setelah Bupati Gorontalo Sofyan Puhi menginstruksikan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk melakukan penanganan terhadap persoalan di rumah adat tersebut.
“Atas nama pimpinan, saya menyampaikan bahwa terkait dengan hal ini, kami sangat keberatan. Tentu kami tidak setuju, dan kami sudah melakukan langkah-langkah konkret terkait dengan hal itu,” kata Abdul Waris saat diwawancarai, Selasa (1/9/2026).
Menurut Abdul Waris, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) serta Satpol PP Kabupaten Gorontalo untuk membantu melakukan penertiban dan menjaga ketertiban di kawasan Bantayo Po Boide.
Ia menjelaskan, selama ini sebenarnya sudah terdapat petugas yang melakukan aktivitas di kawasan rumah adat tersebut. Namun, waktu kerja petugas belum mencakup sepanjang hari.
“Satu orang yang bertugas setiap hari, Senin sampai dengan Jumat, jam kantor. Kemudian dua orang bertugas menyapu pada pagi hari, jam 6 sampai jam 9, dan sore hari jam 3 sampai jam 5,” jelasnya.
Abdul Waris menduga kejadian yang viral tersebut berlangsung pada waktu siang, ketika tidak ada petugas yang berada di lokasi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Dikbud. Karena itu, pengawasan terhadap kawasan Bantayo Poboide akan diperketat agar rumah adat tidak disalahgunakan untuk aktivitas yang bertentangan dengan norma dan etika.
Selain berkoordinasi dengan pihak terkait, Dinas Dikbud juga telah meminta bidang kebudayaan untuk menyampaikan pesan-pesan moral di kawasan rumah adat sebagai bentuk imbauan kepada masyarakat.
“Kami juga sudah meminta kepada kepala bidang untuk menyampaikan pesan-pesan moral di rumah adat itu agar tidak menjadi tempat yang tidak senonoh,” ujar Abdul Waris.
Untuk memperkuat pengawasan, Dinas Dikbud Kabupaten Gorontalo juga menyiapkan langkah jangka panjang dengan menganggarkan tenaga keamanan di Bantayo Poboide pada tahun 2027.
Abdul Waris mengatakan, rencananya akan ditempatkan dua orang security di kawasan tersebut.
“Untuk tahun ini belum tersedia anggaran. Insya Allah tahun depan akan ada dua orang security di situ,” ungkapnya.
Ia berharap keberadaan tenaga keamanan nantinya dapat meningkatkan pengawasan sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat yang memanfaatkan kawasan Bantayo Poboide untuk berbagai kegiatan.
Abdul Waris mengakui, Bantayo Po Boide cukup sering digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat. Namun, terdapat sejumlah bagian kawasan yang relatif sepi sehingga membutuhkan pengawasan lebih optimal.
Pihaknya bahkan telah menawarkan area bagian belakang rumah adat kepada sejumlah pelaku UMKM untuk dimanfaatkan sebagai lokasi lapak usaha. Langkah itu diharapkan dapat membuat kawasan tersebut lebih ramai dan tidak terkesan sepi.
“Kami sudah tawarkan ke beberapa UMKM untuk bagian belakang itu. Mereka sudah sepakat, tapi sampai hari ini belum dibuat. Memang di situ agak sunyi,” katanya.
Abdul Waris pun mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk ikut menjaga kehormatan Bantayo Po Boide sebagai rumah adat yang memiliki nilai budaya bagi masyarakat Gorontalo.
“Kepada seluruh masyarakat, kaum muda, ini rumah adat yang kita agungkan dan kita junjung tinggi. Untuk hal-hal yang sifatnya pacaran dan lain-lain, apalagi yang lebih mendalam lagi, mohon jangan lagi di tempat kami ini,” tegasnya.
Ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama menjaga Bantayo Po Boide agar tetap menjadi ruang yang mencerminkan nilai budaya dan identitas masyarakat Gorontalo.
