Tilangonews.com – Pembangunan jalan lingkungan di Kelurahan Lekobalo kini mulai dimanfaatkan warga. Genangan air yang sebelumnya kerap dikeluhkan perlahan berkurang, menandakan adanya dampak positif dari proyek tersebut.
Namun di balik progres itu, persoalan lain justru mencuat. Pembayaran kepada pihak vendor disebut belum sepenuhnya diselesaikan. Bersamaan dengan itu, muncul pula informasi mengenai dugaan adanya kontrak di luar mekanisme resmi dalam pelaksanaan proyek tersebut.
Salah satu vendor, CV Jangkar Mas, mengaku telah memenuhi kewajiban dengan menyuplai material, termasuk penutup manhole berbahan cast iron. Sebagian material bahkan telah terpasang dan digunakan di lokasi proyek.
“Kami sudah mengirim material sesuai kesepakatan, tetapi pembayaran belum tuntas,” ungkap Muh. Darmaji dari CV Jangkar Mas.
Di sisi lain, pihak kontraktor dikabarkan masih berupaya menyelesaikan kewajiban pembayaran. Sejumlah sumber menyebutkan adanya kendala dalam pengumpulan dana, sehingga proses pelunasan belum bisa dilakukan secara menyeluruh.
Situasi ini membuat vendor berada dalam posisi menunggu, sementara pekerjaan di lapangan tetap berjalan.
Dalam pelaksanaan proyek konstruksi, relasi antara kontraktor dan vendor menjadi faktor penting yang menentukan kelancaran pekerjaan. Ketika pembayaran tersendat, dampaknya tidak hanya pada aspek finansial, tetapi juga berpotensi mengganggu progres di lapangan.
Hingga kini, sejumlah bagian proyek masih terlihat belum rampung. Beberapa lubang saluran air di tepi jalan masih terbuka, sementara bagian lainnya masih dalam tahap pengerjaan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan terkait keterkaitan antara progres fisik pekerjaan dengan persoalan pembayaran yang belum terselesaikan.
Di tengah situasi tersebut, beredar pula informasi mengenai dugaan adanya kontrak di luar mekanisme utama proyek. Meski begitu, informasi ini masih terbatas dan belum terkonfirmasi secara menyeluruh oleh pihak-pihak terkait.
Jika dugaan tersebut terbukti, praktik semacam ini berpotensi memperpanjang rantai pelaksanaan pekerjaan—dari kontraktor utama ke pihak lain hingga ke vendor. Rantai yang semakin panjang dapat membuat alur pembayaran menjadi lebih kompleks dan berisiko tersendat di tingkat akhir.
Meski demikian, persoalan yang paling nyata saat ini tetap pada hubungan antara kontraktor dan vendor, yakni kewajiban pembayaran yang belum sepenuhnya dituntaskan.
Di satu sisi, jalan mulai digunakan dan manfaatnya dirasakan masyarakat. Namun di sisi lain, masih ada proses yang berjalan di balik layar—yang tak terlihat, tetapi menentukan apakah sebuah proyek benar-benar telah selesai.
Sebab, dalam sebuah pekerjaan konstruksi, apa yang tampak rampung di permukaan belum tentu sepenuhnya tuntas.













