Tilangonews.com – Menjelang perayaan Lebaran Ketupat 1447 Hijriah/2026 Masehi, suasana rumah di Desa Yosonegoro, Kabupaten Gorontalo mulai dipenuhi kepulan asap.
Warga setempat tampak sibuk memasak nasi jaha atau lemang, sajian khas yang selalu hadir dalam tradisi tersebut.
Pantauan Tilangonews.com di kediaman Santi Mahajani, Jumat (27/3/2026) sore, ratusan bambu berisi nasi jaha berjajar di atas bara api. Asap mengepul perlahan, menandakan proses pemanggangan sedang berlangsung.
Santi mengungkapkan, tahun ini ia bersama keluarga menyiapkan sekitar 100 kilogram beras atau dua koli untuk dibuat nasi jaha. Hidangan tersebut akan disajikan bagi keluarga dan tamu yang datang bersilaturahmi saat Lebaran Ketupat.
“Kami membuat sekitar dua koli beras, kurang lebih 300 bambu,” ujarnya.
Nasi jaha sendiri merupakan makanan tradisional yang terbuat dari beras yang dicampur santan dan rempah-rempah, kemudian dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang sebelum dimasak.
Sementara itu, Kepala Dusun Yosonegoro, Suparman Gobel, menuturkan bahwa nasi jaha sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Lebaran Ketupat di wilayah tersebut.
“Selain ketupat, warga juga menyediakan nasi jaha yang biasanya disajikan bersama opor ayam,” katanya.
Ia menjelaskan, terdapat dua metode memasak nasi jaha, yakni dikukus dan dipanggang. Namun, metode panggang lebih banyak dipilih karena menghasilkan cita rasa yang lebih khas dan tahan lama.
“Kalau dikukus lebih cepat basi, sedangkan yang dipanggang lebih awet dan rasanya lebih enak,” jelasnya.
Perayaan Lebaran Ketupat di Gorontalo, khususnya yang dipusatkan di kawasan Kampung Jawa seperti di Kecamatan Tibawa dan Limboto Barat, setiap tahunnya selalu ramai dipadati warga. Masyarakat dari berbagai daerah datang untuk merayakan tradisi sekaligus mempererat tali silaturahmi.
