Daerah

Musim Kemarau, Stok Beras di Kabupaten Gorontalo Dipastikan Aman hingga Desember

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Gorontalo, Hermanto Feybie Asona. Foto: tilangonews.com

Tilangonews.com – Masyarakat Kabupaten Gorontalo tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras di tengah musim kemarau. Pemerintah daerah memastikan stok beras masih dalam kondisi aman dan diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir Desember 2026.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Gorontalo, Hermanto Feybie Asona, mengatakan berdasarkan hasil proyeksi neraca bahan pangan, ketersediaan beras pada Agustus 2026 mencapai sekitar 8.506,13 ton.

Sementara itu, kebutuhan beras masyarakat Kabupaten Gorontalo diperkirakan mencapai sekitar 4.183 ton setiap bulan. Dengan demikian, neraca beras Kabupaten Gorontalo masih mencatat surplus sekitar 4.323,14 ton.

“Untuk ketersediaan di bulan Agustus ini, hasil proyeksi bulan Juli sesuai data yang ada, ketersediaannya kurang lebih 8.506,13 ton. Sementara kebutuhan beras setiap bulan untuk Kabupaten Gorontalo sekitar 4.183 ton,” ujar Hermanto, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, proyeksi tersebut dihitung berdasarkan luas lahan sawah yang dipanen dan jumlah penduduk Kabupaten Gorontalo. Dari perhitungan itu, produksi beras daerah dinilai masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Hermanto menegaskan, angka surplus tersebut bahkan belum memasukkan stok beras yang tersedia di Bulog.

“Ini belum kami cantumkan ketersediaan yang ada di Bulog. Pernyataan dari Bulog juga bisa mencukupi sampai bulan Desember. Jadi ini baru proyeksi dari hasil produksi di Kabupaten Gorontalo,” jelasnya.

Selain produksi lokal dan stok Bulog, pemerintah juga memiliki cadangan pangan pemerintah (CPP) yang turut memperkuat ketersediaan beras bagi masyarakat.

Untuk penyaluran bantuan pangan periode Juli, Agustus, dan September, masyarakat penerima dijadwalkan mendapatkan bantuan beras sekaligus sebanyak 30 kilogram pada Agustus 2026.

Jumlah tersebut merupakan akumulasi jatah tiga bulan, masing-masing 10 kilogram per bulan.

Namun, berbeda dengan penyaluran sebelumnya, bantuan kali ini hanya berupa beras tanpa tambahan minyak goreng.

“Kalau bulan kemarin ada minyak goreng dua liter per keluarga penerima. Untuk CPP nanti yang dibagikan adalah beras untuk tiga bulan dan diterimakan sekaligus di bulan Agustus,” katanya.

Dengan dukungan produksi lokal, stok Bulog, serta cadangan pangan pemerintah, Hermanto optimistis kebutuhan beras masyarakat Kabupaten Gorontalo tetap terpenuhi hingga penghujung tahun.

“Proyeksi kami sampai dengan akhir Desember, kebutuhan beras di Kabupaten Gorontalo insya Allah akan mencukupi,” tegasnya.

Meski demikian, Hermanto mengakui bahwa tidak seluruh produksi beras Kabupaten Gorontalo beredar dan dikonsumsi di wilayah sendiri. Sebagian hasil produksi justru didistribusikan ke daerah lain, termasuk Kota Gorontalo.

Di sisi lain, kebutuhan beras di sejumlah wilayah juga dipenuhi melalui pasokan dari luar daerah, seperti Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara.

Menurut Hermanto, kondisi tersebut merupakan bagian dari mekanisme distribusi pangan antardaerah untuk saling memenuhi kebutuhan.

“Memang kalau melihat data proyeksi dengan jumlah luas lahan yang ditanami, khusus Kabupaten Gorontalo sangat mencukupi. Tetapi itu di atas kertas. Faktanya di lapangan, banyak produksi dari Kabupaten Gorontalo yang larinya ke Kota Gorontalo,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pergerakan komoditas pangan antardaerah menjadi salah satu faktor yang membuat kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi, meski produksi masing-masing wilayah berbeda.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah Kabupaten Gorontalo memastikan ketersediaan beras tetap menjadi perhatian, terutama menghadapi musim kemarau dan menjaga pasokan hingga akhir tahun.

Exit mobile version