Tilangonews.com — Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Gorontalo, Abdul Waris, mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan perbuatan asusila di Rumah Adat Bantayo Po Boide.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul dugaan aksi tak senonoh yang dilakukan oleh sepasang kekasih di kawasan rumah adat tersebut.
Abdul Waris menegaskan, Bantayo Po Boide bukan sekadar bangunan, tetapi merupakan rumah adat yang memiliki nilai budaya dan menjadi salah satu tempat yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Gorontalo.
Karena itu, ia meminta masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjaga sikap dan tidak menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat melakukan tindakan yang bertentangan dengan norma kesusilaan.
“Kepada seluruh masyarakat, kaum muda, ini rumah adat yang kita agungkan dan kita junjung tinggi. Untuk hal-hal yang sifatnya misalnya pacaran dan lain-lain, apalagi yang lebih mendalam lagi, mohon jangan lagi di tempat kami ini,” ujar Abdul Waris saat diwawancarai, Selasa (1/9/2026).
Ia mengatakan, pihaknya sangat keberatan dengan adanya dugaan tindakan yang tidak sesuai dengan etika di kawasan Bantayo Po Boide.
“Atas nama pimpinan, saya menyampaikan terkait dengan hal ini, kami sangat keberatan. Tentu kami tidak setuju,” tegasnya.
Abdul Waris mengatakan, pihaknya telah menyiapkan rencana untuk menambah tenaga keamanan pada tahun 2027. Dua orang security direncanakan ditempatkan di kawasan Bantayo Po Boide.
“Untuk tahun ini belum tersedia anggaran. Insya Allah tahun depan akan ada dua orang security di situ,” ungkapnya.
Ia berharap penambahan tenaga keamanan dapat membantu mencegah penyalahgunaan kawasan rumah adat sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat yang datang untuk mengikuti berbagai kegiatan.
Abdul Waris juga mengajak masyarakat bersama-sama menjaga marwah Bantayo Poboide sebagai bagian dari identitas budaya Gorontalo.
Ia menegaskan, menjaga rumah adat bukan hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi membutuhkan kesadaran seluruh masyarakat agar nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap terpelihara.
“Ini rumah adat yang kita agungkan dan kita junjung tinggi, khususnya kita di Gorontalo, apalagi di Kabupaten Gorontalo,” pungkasnya.
