Tilangonews.com – Suasana khidmat menyelimuti Rumah Cinta Quran (RCQ) David Bobihoe, Kamis (27/8/2026) malam. Para ibu-ibu majelis taklim berkumpul memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan membaca Debe dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara bersama-sama.
Lantunan bacaan Deba terdengar merdu dan bergema . Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus mengenang almarhum David Bobihoe Akib.
Pendiri RCQ David Bobihoe, Rahmijati Jahja, mengatakan kegiatan membaca Al-Qur’an dan mendoakan almarhum David Bobihoe Akib memang rutin dilaksanakan setiap malam Jumat.
Menurutnya, para santri dan ibu-ibu majelis taklim di RCQ secara rutin membaca Al-Kahfi dan mendoakan almarhum. Namun, karena pelaksanaan kali ini masih dalam suasana peringatan Maulid Nabi, ia menambahkan pembacaan Diba.
“Setiap malam Jumat mereka rutin membaca Al-Kahfi dan mendoakan almarhum David Bobihoe. Kebetulan malam ini masih dalam suasana Maulid, sehingga saya menambahkan bacaan Diba,” ujar Rahmijati.
Ia menjelaskan, pembacaan Debe juga merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali kebiasaan yang disukai almarhum David Bobihoe Akib.
Rahmijati menilai, Diba bukan sekadar bacaan dalam rangkaian peringatan Maulid. Jika dihayati dan dimaknai dengan baik, kisah perjalanan kelahiran Nabi Muhammad SAW di dalamnya dapat menjadi pengingat bagi umat Islam untuk meneladani akhlak Rasulullah.
“Bagaimana kejujuran beliau, kepekaan sosialnya, kesabarannya. Itu yang harus kita teladani. Jadi bukan sekadar memperingati hari kelahiran Nabi, tetapi bagaimana kita mengambil nilai-nilai keteladanan beliau,” katanya.
Selain menjadi momentum keagamaan, peringatan Maulid Nabi di RCQ juga dimaknai sebagai sarana memperkuat tali silaturahmi. Rahmijati berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan.
Ia mengatakan, setiap tanggal 16 dirinya juga rutin menggelar doa dan pembacaan arwah untuk mengenang almarhum David Bobihoe Akib yang telah berpulang sekitar enam tahun lalu.
“Setiap tanggal 16 saya membuat arwah untuk beliau. Itu sudah berjalan kurang lebih enam tahun. Insya Allah, tradisi ini akan terus dilanjutkan dan ditambah dengan pembacaan Diba,” tuturnya.
Rahmijati meyakini almarhum David Bobihoe akan senang apabila berbagai kegiatan yang dilakukan di RCQ terus diisi dengan kegiatan keagamaan dan hal-hal positif.
Lebih jauh, ia berharap tradisi pembacaan Debe dan berbagai tradisi keagamaan khas Gorontalo termasuk Dikili tetap dipertahankan di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, regenerasi menjadi tantangan penting karena generasi muda saat ini, termasuk Gen Z, mulai semakin jauh dari tradisi dan bahasa daerah.
“Saya khawatir ke depan Debe maupun Dikili ini sudah tidak ada lagi. Generasi sekarang adalah generasi Gen Z, bahkan bahasa Gorontalo saja sudah mulai sulit. Karena itu harus ada regenerasi,” ungkapnya.
Ia pun berharap pemerintah daerah turut memberikan perhatian dan dukungan terhadap upaya pelestarian tradisi dan budaya Gorontalo agar tidak hilang ditelan zaman.
“Bagaimana mempertahankan tradisi ini sehingga Gorontalo tidak kehilangan budaya. Kita membutuhkan dukungan pemerintah daerah untuk melestarikan budaya,” pungkas Rahmijati.
Bagi Rahmijati, menjaga tradisi bukan berarti sekadar mempertahankan sebuah kebiasaan lama. Lebih dari itu, tradisi menjadi jembatan untuk mengenalkan nilai-nilai agama, budaya dan keteladanan kepada generasi berikutnya.
