Daerah

Di Balik Kekayaan Laut Gorontalo, Ancaman Bencana Mengintai Warga Pesisir

Tilangonews.com – Wilayah pesisir Gorontalo selama ini dikenal memiliki potensi kelautan yang besar. Perikanan tangkap, budidaya laut, hingga bentang alam Teluk Tomini menjadi penopang hidup ribuan warga pesisir.

Namun, di balik kekayaan tersebut, masyarakat pesisir Gorontalo menghadapi ancaman serius yang kian nyata, mulai dari abrasi pantai hingga risiko gempa bumi.

Kajian menunjukkan bahwa masyarakat pesisir Gorontalo berada dalam tekanan ganda. Di satu sisi, mereka menghadapi ancaman bencana alam yang meningkat intensitasnya. Di sisi lain, persoalan sosial dan tata kelola memperbesar dampak bencana terhadap kehidupan warga.

Abrasi pantai dan banjir rob menjadi persoalan paling nyata. Di sejumlah wilayah pesisir seperti Kecamatan Leato dan kawasan Pohe, perubahan garis pantai dilaporkan mencapai 1 hingga 2 meter per tahun. Kondisi ini mengancam permukiman warga, mempersempit ruang hidup, serta merusak fasilitas umum yang berada dekat garis pantai.

Dampak bencana tidak berhenti pada kerusakan fisik. Ketergantungan ekonomi masyarakat pada sumber daya laut membuat abrasi dan kerusakan ekosistem langsung memukul pendapatan nelayan.

Rusaknya mangrove dan terumbu karang berdampak pada menurunnya hasil tangkapan, yang pada akhirnya meningkatkan kerentanan sosial, termasuk potensi migrasi dan konflik perebutan sumber daya. Ancaman lain yang tak kalah serius adalah risiko gempa bumi dan tsunami.

Secara geografis, Gorontalo berada di dekat patahan aktif di Laut Sulawesi dan Teluk Tomini. Meski demikian, masih banyak masyarakat pesisir yang bermukim di zona rawan tanpa perlindungan infrastruktur dan sistem peringatan dini yang memadai.

Kajian tersebut mengidentifikasi sejumlah faktor yang memperparah kondisi pesisir. Faktor alam, seperti kenaikan muka air laut, gelombang ekstrem, dan aktivitas seismik, menjadi ancaman yang sulit dihindari.

Namun, tekanan tersebut diperberat oleh aktivitas manusia, termasuk reklamasi pantai yang tidak terencana, alih fungsi mangrove, serta pemanfaatan ruang pesisir yang mengabaikan daya dukung lingkungan.

Dari sisi sosial, rendahnya pemahaman mitigasi bencana, lemahnya pengawasan wilayah pesisir, serta ketergantungan ekonomi pada satu sektor, yakni perikanan tangkap, membuat masyarakat semakin rentan. Ketika bencana terjadi, pilihan untuk bertahan menjadi sangat terbatas.

Meski demikian, kajian tersebut menegaskan bahwa persoalan pesisir Gorontalo bukan tanpa solusi. Salah satu langkah penting adalah pemetaan wilayah rawan bencana yang dilakukan oleh BMKG dan BPBD sebagai dasar penentuan zona aman bagi permukiman dan aktivitas ekonomi.

Restorasi mangrove juga dinilai sebagai strategi kunci. Penanaman mangrove di wilayah seperti Biluhu Timur dan Pohe terbukti mampu menahan abrasi sekaligus menurunkan kekuatan gelombang. Selain melindungi pantai, mangrove berperan memulihkan habitat ikan dan biota laut yang menjadi sumber penghidupan nelayan.

Dari sisi sosial-ekonomi, diversifikasi mata pencaharian menjadi langkah mitigasi yang penting. Pengembangan usaha olahan hasil laut, budidaya perikanan, hingga ekowisata mangrove dinilai mampu mengurangi ketergantungan masyarakat pada laut lepas yang rentan terhadap bencana.

Edukasi dan pelatihan kesiapsiagaan bencana juga menjadi aspek krusial. Masyarakat pesisir perlu dibekali pemahaman tentang jalur evakuasi, tanda-tanda awal bencana, serta langkah penyelamatan diri. Dengan begitu, warga tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi juga subjek utama dalam upaya mitigasi.

Kajian tersebut menegaskan bahwa bencana di wilayah pesisir tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berkaitan dengan faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan. Tanpa penataan pesisir yang berkelanjutan dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, serta masyarakat, risiko bencana akan terus meningkat.

Mitigasi, pada akhirnya, bukan sekadar membangun tanggul atau menanam mangrove, melainkan membangun ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir. Dengan pendekatan yang terintegrasi, masyarakat Gorontalo diharapkan tidak hanya mampu bertahan dari ancaman bencana, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya laut bagi generasi mendatang.

Exit mobile version