Tilangonews.com — Festival Walima di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, kembali menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga tradisi sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah.
Dalam momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang digelar Minggu (30/8/2026), Ketua DPRD Kabupaten Gorontalo Zulfikar Usira turut hadir menyaksikan langsung rangkaian tradisi Walima yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Bagi Zulfikar, Walima memiliki makna yang jauh lebih luas dari sekadar kemeriahan dalam memperingati Maulid Nabi.
Tradisi tersebut, kata dia, menyimpan nilai keagamaan, budaya, kebersamaan, dan gotong royong yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Gorontalo.
“Walima ini bukan sekadar kemeriahan perayaan Maulid. Di dalamnya ada nilai agama, budaya, gotong royong, dan identitas masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Zulfikar.
Salah satu bagian yang menjadi ciri khas Walima adalah tolangga yang dihiasi berbagai macam panganan tradisional. Salah satunya kolombengi yang disusun bersama makanan lainnya sebelum dibawa masyarakat menuju masjid.
Rangkaian tersebut juga tidak terlepas dari dikili, yakni pembacaan zikir, salawat, serta kisah Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Gorontalo.
Menurut Zulfikar, keberadaan tradisi seperti dikili dan Walima perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda. Sebab, keberlangsungan budaya tidak hanya bergantung pada pelaksanaan seremonial, tetapi juga pada kemauan generasi berikutnya untuk mengenal dan menjaganya.
“Generasi muda jangan hanya menjadi penonton. Mereka harus mengenal, memahami, dan ikut merawat tradisi ini agar Walima tetap hidup di masa depan,” katanya.
Di sisi lain, Zulfikar melihat tradisi Walima memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi salah satu daya tarik wisata budaya dan religi di Kabupaten Gorontalo.
Desa Bongo sendiri merupakan bagian dari kawasan Desa Wisata Religi Bubohu. Kawasan ini memiliki sejumlah daya tarik, seperti Taman Wisata Bubohu, Masjid Walima Emas, Pantai Dulanga, serta atraksi budaya Parade Walima dan dikili.
Desa Bongo juga pernah masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.
Potensi tersebut, menurut Zulfikar, perlu dikembangkan dengan tetap menjaga keaslian tradisi. Pengembangan wisata jangan hanya berorientasi pada jumlah kunjungan, tetapi juga harus mampu memberikan dampak langsung terhadap masyarakat.
“Kita ingin tradisi tetap hidup sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat. Ketika wisatawan datang melihat Walima, menikmati kuliner tradisional, dan mengenal budaya Bongo, masyarakat harus menjadi pihak yang paling merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong agar pengembangan Walima sebagai wisata budaya turut diikuti dengan penguatan UMKM masyarakat.
Kuliner tradisional yang menjadi bagian dari Walima dapat dikembangkan sebagai produk unggulan. Begitu pula dengan berbagai produk kerajinan maupun usaha masyarakat yang dapat diperkenalkan kepada wisatawan.
Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam ekosistem wisata, semakin besar pula peluang tradisi tersebut memberikan nilai ekonomi bagi warga.
“Jangan sampai wisata hanya menghadirkan keramaian, sementara masyarakat tidak mendapatkan dampak ekonominya. Budaya harus terjaga, wisata berkembang, dan UMKM masyarakat ikut tumbuh,” kata Zulfikar.
Ia menilai Desa Bongo memiliki modal yang kuat karena masyarakat masih mempertahankan tradisi Walima dalam kehidupan sosial dan keagamaan.
Dengan pengelolaan yang tepat, Walima tidak hanya dapat menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas wisata Kabupaten Gorontalo.
Bagi Zulfikar, pelestarian budaya dan pembangunan ekonomi masyarakat bukan dua hal yang harus dipisahkan. Keduanya dapat berjalan bersama selama masyarakat ditempatkan sebagai pelaku utama.
Festival Walima Bongo akhirnya tidak hanya menjadi momentum memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan, mengenalkan budaya daerah, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Walima tetap berakar pada tradisi, namun di tangan generasi yang mampu mengembangkannya, warisan budaya tersebut berpeluang menjadi kekuatan wisata dan ekonomi rakyat.
